Minggu, 16 Januari 2011

CHAPTER AWAL

CHAPTER AWAL

 Created by : Ayumu Tezuka

Disclaimer : Semua nick disini adalh nyata, Cuma kisahnya aja yang sedikit ga nyata.  Imagenya mungkin ada beberapa yang niru anime tapi karena just for fun, harap dimaklumi



CHAPTER I
NAMAKU TEZUKA_AYUMU
Aku terbangun karena merasa sensasi dingin di punggungku. Aku mencoba membuka mata dan kembali aku merasa pusing yang teramat sangat. Setelah berbaring agak lam, aku lalu kembali membuka mata dan menatap sekelilingku. Sepertinya aku berada disebuah kamar berwarna putih dengan sebuah pintu dan sebuah cermin besar. Saat aku mencoba duduk, aku baru sadar kalau aku berbaring di ranjang besi, dan itulah yang membuat aq merasakan sensasi dingin dipunggungku.
Saat aku duduk, aku baru sadar kalo aku tidak mengenakan pakaian apapun. Aku melihat sekeliling apakah ada lemari atau mungkin pakaian yang tergantung, tapi tidak ada apa-apa selain ranjang besi, cermin besar dan sebuah pintu.
Gak mungkin lah aku keluar dengan kondisi begini, pikirku.
Tapi setelah aku perhatikan baik-baik, aku ternyata ga sepenuhnya telanjang. Aku seperti terbungkus body suit, pakaian ketat yng sewarna kulit. Tapi aku sama sekali ga bisa melihat ujungnya, seolah-olah seluruh tubuhku memang terbungkus body suit  itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.  Aku mencoba mencubit tanganku, dan terasa sakit seolah itu kulitku sendiri.
Okey, sekarang aku tidak telanjang, tapi tetap aja ga mungkin berkeliaran dengan kondisi seperti ini. Kalau saja ada sepatu, atau jubah disini, pikirku
Baru saja aku memikirkannya, tiba-tiba aku sudah mengenakan jubah panjang berwarna hitam dan sepatu kets yang biasa aku pakai.
Wow, berarti aku Cuma tinggal memikirkan pakaian yang ingin aku pakai saja yah.
Aku lalu mulai memikirkan baju-baju yang ingin aku pakai. Mulai dari baju biasa sampai baju-baju aneh. Seperti kita ganti baju tapi tanpa harus melepas yang lama, praktis sekali.
Setelah yakin dengan pilihanku, aku lalu menuju cermin besar untuk melihat penampilanku.  Tapi begitu bercermin, aku langsung berteriak kaget melihat mukaku ga ada. Hanya sebuah wajah rata tanpa hidung, mata ataupun mulut. Aku lalu menarik nafas dan memejamkan mata.
Pasti aku salah liat, pasti tadi pikiranku ngaco, ujarku dalam hati
Aku lalu membuka mata, dan melihat wajahku seperti biasa.  Ada hidung, mata dan mulut serta telinga, semua lengkap.
Huft
Pada saat itu satu-satunya pintu yang ada di ruangan itu membuka. Dengan ragu-ragu aku berjalan menuju pintu dan melihat keluar. Terdapat sebuah lorong tetap dengan tanpa jendela. Aku dapat melihat ada sebuah persimpangan dengan tulisan “GAME” di arah kanan dan “CHAT ROOM” di arah kiri.
Aku lalu memutuskan untuk menyusuri lorong itu, toh berlama-lama di ruangan tadi juga ga akan membawaku kemana-mana. Dipersimpangan aku berhenti sejenak, berpikir untuk menuju ke arah yang mana. Aku lalu melangkah ke arah kiri.
Gak akan mungkin kan dalam chat room ntar pada bunuh-bunuhan, pikirku
Lorong disisi kiri dipenuhi berpuluh pintu dengan symbol-simbol aneh. Mungkin itu symbol dari masing-masing chat room. Aku terus menyusuri  lorong sampai akhirnya aku melihat salah satu pintu di ujung lorong. Simbol diatas pintu itu bertuliskan AF
Aku membuka pintu dan terlihat suasana seperti layaknya sebuah club, ada sebuah meja bartender disisi kanan lengkap dengan kursi-kursi didepannya. Terdapat pula meja-meja kayu dengan kursi bundar mengelilinginya. Diujung ruangan  terdapat dua buah pintu dengan salah satu berlambang palang merah dan diantara kedua pintu itu terdapat papan elektronik besar yang sepertinya bertuliskan nama-nama , mungkin nama yang ada didalam ruangan ini, terdapat 100 nama dan nomor 101 berkedip-kedip walau masih belum bertuliskan apa-apa, juga terdapat tangga disisi kanan ruangan yang langsung menuju ke tingkat atas dimana terdapat beberapa pintu lagi. Disalah satu meja terdapat seorang pemuda dengan layar-layar hologram mengelilinginya. Dan dilantai atas aku melihat seorang gadis dengan telinga kucing menatapku dengan penuh rasa ingin tau. Aku seperti berada di dalam sebuah anime. Begitu aku melangkah masuk, pintu dibelakangku menutup dan menghilang, hingga hanya tinggal sebuah dinding kayu.
Aku mulai berpikir jangan-jangan aku salah masuk kesini, tapi lebih baik beramai-ramai daripada ga bisa keluar dari dunia ini seorang diri.
Seorang gadis berambut pendek dan membawa tas bergambar tuts piano datang menghampiriku
“selamat datang, baru pertama kali yah masuk kesini?” ujarnya ceria
Aku menatap gadis itu, ga ada pandangan kosong kaya android-android yang menjemputku.
“Hmm? Knapa? Ada yang salah?” tanyanya.
“oh, gak,” jawabku “Cuma kaget aja.. kamu manusia kan?”
“hu uh, sama kaya kamu kok, disini ini semua yang terjebak didunia ini, dan aslinya kita semua manusia,” ujarnya sambil tersenyum
“terjebak?”
“Aku sudah 3 bulan berada disini, banyak yang sudah lama sebelum ku, pada awalnya panic sih, bosen juga tapi karena disini makin banyak yang datang, jadi ga terlalu terasa.”
Aku hanya terdiam. Jadi benar aku ga bisa keluar lagi ke dunia nyataku.
Gadis itu menatapku dan buru-buru berkata, “Tapi tenang saja, kami sedang mengusahakan cara biar kembali lagi kedunia nyata kok. Lama-lama berada disini juga ga betah.”
Aku hanya tersenyum, Yah, aku juga ga mau terjebak begini. Bisa-bisa aku diamuk orangtua ku kalo 3 bulan tanpa kabar.
 “oh ya, kita belum berkenalan, Nama nickqu Gyaboo, kalo kamu?” Gadis itu mengulurkan tangan
Aku berpikir sejenak, ga mungkin aku mengatakan nama asliku kan. Toh gadis itu bilang juga kalo itu nama nicknya. Aku lalu teringat satu nama.
“Tezuka Ayumu. Mudah-mudahan kita bisa jadi teman baik yah disini,” aku menjabat tangan Gyaboo.
“pasti,” ujarnya senang
Aku melihat ke arah papan elektronik besar itu dan di nomor 101 tertulis nama nickku. Berarti aku sudah terdaftar di tempat ini, Mudah-mudahan aku ga salah pilih.
“Yosh..” gadis berkuping kucing yang dari tadi mengamatiku meloncat turun dari lantai dua, dan mendarat dengan tanpa suara di lantai kayu. Aku baru sadar kalau gadis itu mempunyai ekor kucing pula. “akhirnya tim kita bertambah satu orang lagi, lebih banyak lebih rame, ya kan SInc?” tanyanya kepada pemuda yang dikelilingi layar hologram.
“terserahmulah” jawab pemuda yang dipanggil sinc itu.
Gadis berkuping kucing itu menghampiriku, “ tenang aja Tez, disini orangnya baik-baik kok, yah ada beberapa yang agak gak waras tapi masih dalam batas normal kok,” ujarnya tertawa.
“dia hanya bercanda,” bisik Gyaboo
Aku hanya tersenyum, gadis kucing ini lucu juga.
“Aku Nigihayami, tapi boleh panggil aku Nigi aja kok Tez.” Nigi lalu berbalik dan berteriak “WOY, Diem dikit napa!!” Suaranya kencang dan langsung mebuat satu ruangan terdiam.  “Kita ada temen baru nih, sapa dulu dong,”
Seperti  sebuah koor, semua orang langsung berkata “Haiii..”
Dengan sedikit malu, aku menjawab balik, “hai”
“nah gtu kan lebih bagus,” ujar Nigi sambil mengibaskan tangannya. Dan sedetik kemudian semua orang kembali pada aktivitas mereka semula, ruangan pun kembali riuh
“selamat datang di anime Fans Tez, aku yakin kamu akan punya banyak teman baru disini,” ujar Nigi sambil melangkah pergi dengan ekor kucingnya mengayun setiap dia melangkah.
Sekarang aku yakin bahwa aku telas salah eh maksudku ga salah lagi milih tempat ini.


CHAPTER 2
WELCOME TO THE JUNGLE OF ANIME FANS
 
Perkenalanku yang telah sedikit dibuat heboh oleh si gadis kucing dengan suara kencang, Nigihayami, membawaku berkenalan dengan para penghuni ajaib lagi di Guild ini. Yah daripada menyebut ruangan atau perkumpulan mending aku pakai kata Guild aja deh.
Gyaboo, gadis ceria ala Nodame ini mengajakku berkeliling.
“Pintu yang ada tanda palang merah itu, klinik kami, saat ini kami punya 1 perawat  dan beberapa tenaga pembantu,” tunjuk Gyaboo
“Klinik? Mang kalian bisa sakit juga disini?” tanyaku
“Selain sakit biasa, kadang kami juga terluka di war ato karena  game online,” jelas Gyaboo
“Disini ada war juga?”
“Yah terkadang ada juga orang-orang yang menyerang ke sini, terutama karena bisa dibilang kami ini para pemberontak, “ ujarnya tertawa kecil.
“Kemudian, pintu itu menuju ke ruangan tidur masing-masing,” tunjuk Gyaboo ke pintu lain. “ Kamarnya dibagi menurut nomor urut masing-masing,” jelasnya sambil melihat ke papan elektronik besar di atas kami.
“berarti kamarku di nomor 101 yah,” ujarku
Gyaboo mengangguk.
“nah, dilantai dua, ada ruang pertemuan,” ia menunjuk pintu kanan di lantai dua, “ruang persenjataan,” ia menunjuk pintu sebelahnya, “dan ruang eksperimen. Segala macam eksperimen dari yang beneran sampai yang sangat ngaco dilakukan disana,” tunjuk Gyaboo ke pintu disebelah kiri di lantai dua. Pintu itu ditulisi symbol tengkorak dan tulisan “Yang Ga punya Urusan Mending Jangan Masuk”
“Ruangan disini Cuma ada itu aja. Jadi tour kita selesai, kalo gitu aku kenalkan pada yang lain yah? Mau?” Gyaboo tersenyum manis lagi
“Oke,” jawabku, mang susah kalo menolak permintaan dari gadis seimut ini.
“hmm, siapa dulu yah??” Gyaboo tampak berpikir.
“Ah, dia itu mifukuro,” Tunjuknya ke arah seseorang dengan pakaian pelayan. Yang sedang melayani salah satu meja “Biasa dipanggil Mifu.”
“ya, ada apa?” tiba-tiba Mifu sudah ada didekat kami.
Cepat sekali, pikirku. Aku mengamati orang ini, wajahnya cantik, tapi rasanya ada yang aneh.
“Ga ada apa-apa kok, Cuma mau ngenalin ke Tezuka,” jawab Gyaboo
“owh, ya sudah,” dalam sekejap Mifu langsung berada lagi di meja yang ia layani.
“Dia itu…”
“Ga usah heran, belum ada yang tau kalo Mifu itu cewe ato cowo,” ujar Gyaboo sambil tertawa kecil. “sebenarnya, disini banyak orang, tapi mereka sedang keluar semua,” lanjutnya. Ia lalu memandang sekeliling lagi.
“nah, dia itu bakadayo alias Baka teppei,” tunjuknya ke arah seorang pemuda yang memakai jas putih dan sedang duduk dipojok ruangan mendengarkan cerita seorang gadis. “dia itu PelaCur disini.”
“Hah?” aku tersentak kaget
“Maksudnya Pelayan Curhat, dia biasa praktek di pojok situ,” Gyaboo tersenyum simpul. “Semua orang disini pasti pernah memakai jasanya, khususnya cewe.”
“Gya chan,” Sinc memanggil. Memang sih dia berada di dekat kami. Gyaboo langsung menoleh. “Kayanya lebih baik kamu mundur sedikit deh, aku kan ga mau kamu terluka loh.”
Setelah diperhatikan lebih baik, dibalik layar-layar hologramnya, sebenarnya pemuda yang dipanggil Sinc ini cukup yah bisa dibilang cakep lah. Dengan  rambut hitam dan kacamatanya, kalo di dunia nyata aku pasti sudah naksir ma dia.
Kriiiinggg..
Tiba-tiba terdengar bunyi weker yang sangat nyaring. Mifu dengan cepat langsung mengatur meja paling belakang ke arah sisi kanan dan kiri ruangan.
“Ah, sudah waktunya yah, makasih yah sinc” Gyaboo menarikku menjauh dari sinc
“Anytime, Honey,” Sinc lalu terlihat sibuk mengerjakan sebuah program. “Opening portal,” ujarnya
“WOY, yang deket pintu Minggir SEMUA!” suara kencang khas Nigi terdengar. Aku melihat dia tengah duduk diatas meja bar. Beberapa orang yang berada di dekat kami buru-buru menyingkir ke pojok ruangan.
“Suaramu ga usah kenceng gitu napa?” ujar seorang pemuda di dekat Nigi yang sedang menyiapkan minuman, di mulutnya terselip sebatang rokok. Sepertinya dia bartender disini.
“suka-suka aku dong, mulut juga mulut aku sendiri,” protes Nigi
“Tapi bising tau dengernya,” balas pemuda itu
“Ya, ga usah denger,”
“Kalo kamu teriaknya di dekat kuping aku, gimana aku ga mau denger.”
“Brisik ah!” Nigi mencakar wajah pemuda itu.
“Jangan duduk di atas meja, ga sopan,” ujar pemuda itu sambil mengusap bekas cakaran Nigi. Dan lukanya langsung menghilang tanpa bekas
“suka-suka aku dong, mang kamu siapa aku,” protes Nigi
“Aku siram loh ntar, kucing kan takut air,” jawab Hotaru
“Coba aja,” tantang Nigi
“pesanananmu Euka,”
Hotaru menuangkan segelas minuman dan melemparkannya ke arah seorang gadis berambut panjang dengan pakaian sexy yang dengan sigap menangkap gelas itu tanpa ada setetes air yang tumpah, lalu duduk kembali sambil memperlihatkan pahanya dan berkata “sankyu, hota” sambil mengedipkan matanya
Aku menatap ke arah mereka.
“Dia Hotaru Ineos, bartender disini dan cewe itu namanya Eukaristia Razu Lipuli tapi biasa dipanggil Euka,” jelas Gyaboo, “mereka memang selalu bertengkar kok, yah ga cuma Nigi doang sih.”
Beberapa pintu keemasan mulai muncul di dekat meja Sinc, dari masing-masing pintu mulai masuk belasan orang. Masing-masing dengan keunikan mereka.
Ada seorang pemuda yang mengenakan kaos dan celana jins menghampiri kami, “hai, pasti orang baru yah? Tezuka san,” ujarnya
“Darimana kamu tau?”tanyaku
“Itu, nomornya terakhir aku lihat masih 100, dan biasanya Gya ini paling seneng ma orang baru,” ujar pemuda itu.
“Wah, pengamatanmu jeli sekali,” pujiku
“Aku kyu dna, detektif, senang berkenalan denganmu Tezuka san,” ia mengulurkan tangan
Aku membalas jabatan tangannya. “Senang juga bertemu denganmu, Kyu kun”
Kyu lalu menuju seorang gadis yang tengah mendengarkan ipod dan menyerahkan sebuah berkas.
“Dhe, ini yang kamu minta,” ia lalu duduk disebelah gadis itu.
“Itu Dhe bsblover,  yang paling lembut disini, pengamat segalanya juga, termasuk salah satu peneliti kami,” jelas Gyaboo.
Seorang pemuda berkacamata lewat didepan kami sambil membawa sejumlah senjata, dan menaruhnya di meja tempat Sinc duduk. “Sinc, analisis ini, aku mau menambahkan ke item senjata kita,”
“mang aku anak buahmu apa? Ga bisa lebih sopan dikit yah?”
“Oh ya, lupa.. Tolong… agak cepetan dikit,” pemuda itu menatap ke arah kami berdua.
“Yauchi Hiruma ini Tezuka Ayumu, Yauchi ini penanggung jawab persenjataan kami,” jelas Gyaboo.
“Owh, anak baru,” Yauchi hanya melihat sekilas lalu menuju meja bar.
“Hey, kucing, ngapain duduk diatas meja bar, aku mau minum ga bisa nih,” protes Yauchi.
“kalian berdua itu bawel banget deh,” keluh Nigi
“Udah aku bilang kan Nig,” ujar Hota sambil menaruh beberapa gelas di sebuah nampan yang dengan cepat langsung dibawa Mifu ke meja di pojok ruangan.
“Om Yau nih, kalo ga ngegoda Nigi, jangan-jangan gatel-gatel yah?” goda seorang pemuda berambut ikal sambil menghabiskan minumannya.
“Enak aja! Bukannya kamu Der, yang naksir Nigi,” bantah Yauchi
“Wah maaf aja, kucing bukan termasuk tipe favorite saya tuh,” jawab pemuda yang dipanggil Der dengan santai.
“Aaah.. ga kamu ga dernew, keduanya bikin bising,” Nigi berdiri di atas meja bar dan langsung meloncat ke lantai dua tempat dia mengamatiku tadi.
Jarak antara meja bar dan lantai dua sangat jauh, aku kagum aja dia bisa meloncat ke tempat yang jauh seperti itu, tapi mungkin juga itu sudah menjadi bagian kekuatannya.
“yah, kucingnya pergi deh, Om Yau sih,” Dernew menyerahkan gelasnya yang sudah kosong ke Hotaru yang langsung mengisi ulang dengan minuman  yang sama.
“Kok aku sih!” protes Yauchi. “Hota, yang biasa, makanan dah siap belum?”
“Ucun lagi nunggu barang dari Ura katanya, bentar lagi,” jawab Hotaru sambil menyiapkan minuman pesanan Yauchi.
“AWW,” teriakan Nigi membuat hampir semua orang menoleh ke lantai dua. “Panas tau, Ace! Apa-apaan sih kamu!”
“Lagian kamu duduk ditempatku, ngehalangin pandanganku nih,” Seorang pemuda dengan topi merah muncul dibelakang Nigi.
“Siapa suruh kamu jadi invicible mana aku tau kamu disitu, lagian kan ini masih luas, cari tempat lain sana,” Nigi mengusap bahunya, “untung ga berbekas,” ujarnya lega.
“Cuma disentuh bahunya aja teriak,” Pemuda yang dipanggil Ace berjalan dan duduk di pagar balkon lantai dua, ga jauh dari Nigi.
“tanganmu itu bisa mengeluarkan panas Ace, Pake sarung tangan dong lain kali,” protes Nigi
“Yah, namanya juga lupa,” Ace perlahan-lahan kembali menghilang.
“Ace D. Portgaz, dia mang seneng disana, yang paling mengetahui semua aktivitas anggota kami selama di ruangan ini,” Gyaboo langsung menjelaskan.
Aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Ternyata mang unik-unik semua penghuni disini.
Aku lalu mengalihkan pandangan ke arah meja bar, walaupun agak jauh dan suasana ruangan ini agak riuh, tapi aku sepertinya mampu mendengar dengan jelas percakapan Yauchi dan Dernew.
“Ah, kucing itu mang penggembira suasana yah, pasti sepi kalo ga ada dia,” Dernew berkata sambil mengaduk minumannya.
“kamu kangen yah Der,” goda Yauchi
“justru baru mau bilang kalo Om Yau yang bakal kesepian,” Dernew ga mengalihkan pandangan dari minumannya
“Kata siapa??” Yauchi kembali protes
“Jahe lama nih,” gumam Dernew
Saat aku sedang konsentrasi mendengarkan percakapan mereka, tiba-tiba seorang gadis sudah berada didepanku, wajahnya begitu dekat denganku. Karena kaget, aku mundur selangkah.
“ah, anak baru, manis juga, tapi lebih tantique aku loh,” ujarnya tersenyum.
Ternyata gadis itu melayang di udara, saat sedang berbicara denganku dia dengan santainya duduk melayang.
“kenalkan, dia ini..” Gyaboo baru saja berkata tapi gadis itu memotong pembicaraan Gyaboo.
“Biar aku aja, Gya. Saya adalah Jheeea, teleporter anda,” Ia membungkuk hormat.
“Teleporter?” tanyaku
Jheeea menjejakkan kakinya dilantai. “benar sayang, kalau kau ingin pergi  kemana saja tanpa harus menunggu portal, hubungi saja aku yang tantique ini. Tapi dengan biaya tentunya,” Jheeea tersenyum dan menyentuh hidungku lalu menghilang. Ia lalu muncul dibelakang Dernew.

masih berlanjut....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar